Program Sekolah Bebas Sampah di Pinggir TPA Bekasi

  Selasa, 23 Oktober 2018   Ananda M Firdaus
Seorang guru dan para siswa SMPN 27 Kota Bekasi tampak memungut sampah di lingkungan sekolahnya, Selasa (27/10/2018). (Ananda M Firdaus/Ayobekasi.net)
AYO BACA : Jika Ada Anak Belum Sekolah, Warga Diminta Lapor Disdik

AYO BACA : Tiga Siswa SMAN 2 Kota Bekasi Raih Medali Olimpiade Sains Nasional

BANTARGEBANG, AYOBEKASI.NET -- Keprihatinan terhadap volume yang sampah yang begitu besar, menggerakan SMP Negeri 27 Kota Bekasi menggagas program sekolah bertajuk "Gerakan non Sampah" disingkat genosa. 
 
Terkesan mirip dengan istilah pemusnahan massal "genosida", namun inilah bentuk kepedulian terhadap lingkungan sekolah yang berdekatan dengan TPA Sumur Batu dan Bantargebang ini. 
 
“Sekolah kami letaknya berdekatan dengan lokasi tempat pembuangan sampah akhir (TPA) Sumur Batu, makanya kami menginginkan anak-anak bisa sadar mengenai dampak sampah bagi lingkungan dan kesehatan,” ungkap Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, SMPN 27 Kota Bekasi, Agung Rusiawati, Selasa (23/10/2018).
 
Menurut Agung, hidup sehat dan terbebas dari penyakit yang diciptakan lingkungan kotor merupakan cita-cita semua orang. Maka tak salah, ketika memasuki lingkungan sekolah ini, kebersihan menjadi pemandangan yang menyegarkan mata. 
 
Dengan gerakan yang dibangun di sekolah tersebut, sekolah ini pernah mendapatkan dianugerahi penghargaan sebagai juara kedua sekolah sehat tingkat Kota Bekasi pada tahun 2017 dengan mewakili kecamatan Bantar Gebang.
 
“Walaupun sekolah kita dekat dengan TPA, tapi kita harap siswa memiliki kepedulian untuk mengelola sampah, sehingga nyaman dan sekolah menjadi rumah kedua setelah rumah mereka,” ujarnya. 
 
Menurut Agung, pada awalnya program dibuat atas keprihatinan kepala sekolah melihat sampah berserakan, utamanya sesaat setelah jam istirahat. Akibat dari sampah-sampah yang berserakan tersebut mengundang lalat dengan jumlah yang banyak.
 
Program dibuat secara sederhana, dimulai dari setiap siswa membawa tempat makan pribadi sehingga limbah sampah bisa diminalisir, khususnya ketika para siswa memesan makanan di kantin sekolah.
 
Awalnya memang tidak mudah menerapkan hal ini, khususnya bagi para siswa laki-laki yang terkadang merasa malu membawa tempat makanan sendiri ke sekolah.
 
Setelahnya, sekolah mulai membiasakan siswa untuk memungut sampah di lingkungan sekolah. Sampai mengedukasi bagaimana cara membuang dan memilah sampah organik dan non organik. 
 
“Kalau dulu kan dicampur sampah organik dan anorganik kalau sekarang mulai dipisah sehingga dapat langsung dibawa ke pengolahan sampah di belakan, yang kita sebut tempat pembuangan sampah sementara,” tutupnya.

AYO BACA : Grup Medsos Bocah SMP di Bekasi Berisi Konten Porno dan Tawuran

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar