Mengolah Sampah Menjadi Paving Block Ala Sisaku

  Selasa, 20 November 2018   Ananda M Firdaus
Ketua APJETI, Matias Tumanggor, dengan alat pengolah sampah Sisaku yang masih dalam perakitan, Selasa (20/11/2018). (Ananda M Firdaus/Ayobekasi.net)

BANTARGEBANG, AYOBEKASI.NET--Pemanfaatan maupun sampah hingga sekarang dinilai masih kurang maksimal. Tak salah kebanyakan masyarakat masih menganggap sampah hanya untuk dibuang, bukan untuk selebihnya.

Ketua Asosiasi Pengumpul Minyak Jelantah untuk Energi Terbarukan Indonesia (APJETI), Matias Tumanggor, mengatakan pihaknya mencoba memberi inovasi pemanfaatan sampah lewat alat bernama Solusi Indah Sampahku, disingkat Sisaku.

AYO BACA : Kawali: Penertiban Truk Sampah DKI Berkaitan dengan Kas Daerah Bekasi

Menurutnya, sampah menjadi mempunyai nilai setelah diolah oleh Sisaku. Sisaku dengan bantuan minyak goreng bekas mampu membuat bahan bangunan, yakni paving block.

"Hasil sisa sampah yang menjadi debu karbon kita buat paving block karbon. Jadi nanti akan muncul paping block karbon hasil olah lewat alat Sisaku ini," kata Matias di tempat pembuangan sampah di Pangkalan Tiga, Bantargebang.

AYO BACA : Lalai Kewajiban, Truk Sampah Jakarta Ditahan Petugas Dishub Bekasi

Matias menjelaskan kelebihan dari Sisaku yakni mampu mengolah semua jenis sampah, baik yang dibuang dari rumah tangga atau tempat lainnya. Selain itu, bahan pengolah dari minyak bekas yang menjadikan proses produksi sangat ekonomis, juga diklaim sangat ramah lingkungan.

"Pola kita zero waste, tidak ada asap, tidak ada kebisingan, tidak ada bau, dan tidak kalah menariknya itu IPAS-nya. Kalau dimana-mana (IPAS) sering bermasalah, metode yang kita kerjakan ini metode baru, bening seperti air bersih," katanya.

Kota Bekasi menjadi pilot project pengolahan sampah Sisaku. Selain karena berdomisili di sini, Matias melihat potensi pemberdayaan Sisaku lantaran Kota Bekasi dikelilingi TPS.

Menurut Matias, Sisaku dimampukan mengolah sampah 10 ton dalam sehari dengan hitungan 3 shift selama 24 jam dan mengasilkan 2,8 kubik. Bila sudah beroperasi, maka alat dapat memangkas volume sampah yang begitu banyak di TPS.

"Sampah memang darurat jadi berharap bisa disetujui pemerintah, karena bermanfaat bagi empat aspek, teknis, lingkungan, sosial, dan keuangan. Sosial misalnya dengan metode Sisaku, paling tidak bisa meminimalisir kemacetan dari hilir mudik armada pengangkut sampah," tandasnya.

AYO BACA : Kawali: Hindari Konflik, DKI Jakarta Perlu Pengolahan Sampah Dalam Kota

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar