Mengenal Punkajian, Komunitas Hijrah Anak Punk di Bekasi

  Rabu, 15 Mei 2019   Ananda M Firdaus
Punkajian menghelat bagi iftar atau takjil Ramadan di Jalan Ir. H. Djuanda, Bekasi Timur, Kota Bekasi, Selasa (14/5/2019). (Ananda M Firdaus/ayobekasi.net)

BEKASI TIMUR, AYOBEKASI.NET -- Bagi kebanyakan orang, anak punk selalu dipandang buruk. Mereka dianggap sebagai sampah masyarakat. Meski secara pasti masyarakat tak melihat yang telah mereka perbuat, predikat pelabrak norma kehidupan sulit dilepaskan. 

Namun siapa sangka dibalik stigma itu, banyak juga anak punk yang memilih bertaubat ke jalan agama. Hijrah menurut mereka bukan sekedar ajang penyucian nama di mata umum, tetapi kebutuhan mendesak agar jati diri benar-benar ditemukan. 

Hal itu pula yang coba digaungkan oleh Punkajian. Komunitas anak punk yang hijrah dan memilih jalan agama. Mereka ingin anak-anak punk tak terlena dengan jalan hidup itu. Agama menjadi solusi mendapatkan ketenangan hati dan arah hidup yang lebih pasti.

Ketua Punkajian Miki Kosasih menceritakan pembentukan komunitasnya berawal dari hijrahnya sejumlah anak berlatar punk di Bekasi yang rutin belajar agama. Awalnya kelompok ini sama sekali tak menamai kumpulannya dengan sebutan apapun. 

"Punkajian awalnya bahkah tanpa nama, sejak tahun 2015 itu temen-temen saya punya pengajian kecil, tempat kita sharing tentang agama. Akhirnya pada 2016 kita disatukan dengan satu kelompok lainnya melalui pembimbing kita. Awal 2017 di suatu even, akhirnya kita menamai Punkajian atau anak punk yang mulai ngaji," jelas Miki kepada ayobekasi.net, Selasa (14/5/2019).

Miki menjelaskan, dengan berdirinya komunitas ini maka jalan berdakwah atau misi menyeru anak punk kebanyakan kepada kebaikan semakin nyata. Walau tak menyasar berapa banyak anak punk yang harus dirangkul, komunitas ini tetap menjalankan dakwahnya. 

Dakwah seolah menjadi kewajiban. Baginya kesadaran beragama jangan sampai dibelenggu hanya untuk individu. "Karena ketika belajar, orang Islam itu gak cukup dengan solih harus jadi muslih. Gak cukup jadi orang baik tapi harus jadi penyeru kebaikan," katanya. 

Semenjak berdiri, banyak program yang digiatkan Punkajian. Satu di antaranya dakwah dengan menyambangi langsung anak punk di jalan. Program ini dinamai punk on the street. Salah satunya program itu pernah dihelat di kalangan anak punk di Ciapus Bogor. 

Dia mengatakan mendakwahkan ajaran agama antara sesama orang yang terjun ke dunia punk lebih efektif ketimbang hal itu diserukan oleh orang tak mengerti latar anak punk.

"Karena untuk masuk ke wilayah anak punk harus anak punknya lagi, harus ngeliatin tampangnya lagi. Walau sepatah dua patah disampein itu masuk pesannya. Jadi peran kita mengganti ustad, jadi penjembatan aja ketika mereka sudah punya kecenderungan baik silahkan mereka mau milih pengajian mana," jelasnya. 

Namun ia mengakui mengajak anak punk berhijrah walau difasilitasi oleh orang berlatar sama tak semudah yang dibayangkan. Tidak cukup satu atau dua kali ajakan agar mereka dapat setuju dengan jalan agama yang Punkajian serukan. 

Penolakan maupun cibiran sudah terbiasa didengar. Bahkan hasutan untuk kembali ke jurang hitam itu kala berdakwah kerap muncul. Akan tetapi kelompoknya tetap bersikukuh di jalan agama. 

Dia mengatakan semenjak resmi bernama, Punkajian banyak melakukan rombak pengurus. Begitu juga hilir mudik keanggotaan. Tercatat dari sekian puluh member, anggota yang rutin berkegiatan sekitar 15 orang.

Namun bagi Miki, untuk menjalankan misi dakwah tak perlu banyak orang. Yang paling penting dapat menjaga ke-istiqomah-an dalam menjalaninya. Itu pula yang membuat keberadaan Punkajian tetap eksis hingga sekarang.

"Kita berpikir walau satu orang kita tetep ngaji, berapa pun jumlahnya kita tetep ngaji, tetep bergerak. Kita jangan sampai kalah karena jumlah, karena Allah gak lihat itu, yang penting itu keseriusan kita, niat kita, tekad kita untuk ngajak orang insyaallah banyak yang mau ikut," ungkapnya.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar