Kronologi Intimidasi yang Dialami Jurnalis Bekasi

  Rabu, 11 September 2019   Firda Puri Agustine
Sejumlah wartawan melakukan aksi pembelaan terhadap jurnalis Bekasi Ahmad Fairuz atau Pay yang diduga mengalami ancaman dan intimidasi saat peliputan. (Ist)

BEKASI SELATAN, AYOBEKASI.NET -- Jurnalis Radar Bekasi (Jawa Pos Grup) Ahmad Fairuz atau Pay diduga mengalami ancaman dan intimidasi secara verbal oleh Ketua Karang Taruna Kecamatan Bekasi Utara Heri alias Cemong pekan lalu.

Kejadian itu bermula saat Pay melakukan kerja jurnalistik meliput penertiban bangunan liar milik Karang Taruna 01 Teluk Pucung oleh Kelurahan Harapan Baru pada 30 Agustus 2019 lalu. Bangunan ini dibongkar lantaran berdiri di atas garis sepadan sungai atau zona merah yang dilarang mendirikan bangunan apapun.

Saat itu Pay awalnya hanya ingin melakukan konfirmasi melalui telepon terkait permintaan ganti rugi Ketua Karang Taruna 01 Teluk Pucung ke Heri selaku Ketua Karang Taruna Kecamatan Bekasi Utara. Namun, permintaan itu ditolak.

“Dia enggak mau lewat WA (Whatsapp) atau telepon. Maunya ditemui langsung di rumahnya. Sampai sana saya malah dimaki-maki dan dibilang mau mencemarkan nama baik dia,” kata Pay kepada ayobekasi.net, Rabu (11/9/2019).

Bukan itu saja, Heri juga menyinggung soal pekerjaan dan profesi jurnalis yang dijalani Pay. Dia mengatakan bahwa seharusnya jurnalis tidak boleh wawancara melalui telepon, tapi temui langsung narasumber bersangkutan.

“Saya temui dia tapi malah dimaki sampai dibilang ‘wartawan buta enggak bisa cari berita’,” ujarnya.

Pay belum berniat melaporkan Heri ke pihak berwajib karena masih menunggu itikad baik. Dia hanya menuntut Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi mencopot jabatan Heri sebagai Ketua Karang Taruna Bekasi Utara dan permintaan maaf secara terbuka kepada teman-teman jurnalis.

“Karena dia sudah melecehkan (profesi jurnalis). Nanti kami diskusikan lagi langkah selanjutnya (apabila tak direspons),” katanya.

Ketua Forum Jurnalis Bekasi Boyke Hutapea menyesalkan sikap Ketua Karang Taruna Kecamatan Bekasi Utara tersebut. Dia menyatakan bahwa kerja jurnalis dilindungi Undang-Undang No 40 Tahun 1999 Tentang Pers yang menjamin kebebasan pers.

Ada konsekueksi pidana penjara dua tahun dan denda maksimal Rp500 juta bagi siapa saja yang mencoba menghalangi kerja jurnalis dalam mencari dan memperoleh informasi sesuai kode etik jurnaslitik.

“Seharusnya, ketika memang informasi tersebut dianggap kurang berkenan, bisa dikroscek dan diperbaiki. Bukan dengan cara yang kurang etis terhadap profesi wartawan,” ujarnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar