Belajar Tanggunglangi Corona dari Taiwan

  Rabu, 11 Maret 2020   Ananda Muhammad Firdaus
Ilustrasi -- Petugas medis membawa pasien saat simulasi ke Ruang Isolasi Khusus Kemuning Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), Jalan Pasteur, Kota Bandung, Jumat (6/3/2020). (Ayobandung.com/Kavin Faza)

TAIPEI, AYOBEKASI.NET -- Saat negara di dunia sedang berusaha untuk menahan virus Corona, Taiwan dapat menjadi contoh bagaimana sebuah negara dapat mencegah terjadinya penyebaran virus itu lebih lanjut.

Taiwan berjarak sekitar 130 Kilometer dari Tiongkok, dimana pusat penyebaran virus itu berasal. Banyak warga Taiwan yang kembali dari Tiongkok untuk merayakan Tahun Baru China dan sekitar 2000 Turis dari Tiongkok datang ke Taiwan sehingga potensi penyabaran di Taiwan sangat besar.

Akan tetapi, Taiwan hanya mengalami 47 kasus virus Corona dan satu kasus fatal sejak Selasa (10/3/2020). Sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah kasus Tiongkok yang mencapai 80 ribu lebih kasus dengan di antaranya sekitar 3000 kasus berakhir fatal.

Perbedaan tersebut sangat signifikan walaupun populasi dari kedua negara terhitung sangat padat. Taiwan yang memiliki 23 Juta orang dan Tiongkok sebanyak 1.4 Milyar orang.

Jumlah penderita Corona juga terhitung lebih sedikit dibandingkan dengan negara-negara tetangga yang terpapar virus Corona seperti Korea Selatan dengan 7500 kasus dan Jepang dengan 530 kasus.

Dari 100 negara yang terpapar virus corona Taiwan memiliki rasio penyebaran terendah di dunia sebesar 1 dari 500 Ribu orang, padahal negara ini memiliki lokasi yang sangat berdekatan dengan Tiongkok dan warganya yang sering keluar dan masuk negara tersebut.

Apa saja yang dilakukan Taiwan yang bisa dipelajari negara lain untuk mengatasi penyebaran virus Corona?

Waspada dan Proaktif

Karena berdekatan dengan Tiongkok dan memiliki bahasa yang sama, Taiwan mengetahui lebih awal soal penyebaran virus yang terjadi di Wuhan. Akan tetapi, tindakan proaktif yang dilakukan membantu dalam pencegahan virus lebih lanjut.

Pada 31 Desember 2019, hari yang sama pada saat Tiongkok memberitahukan WHO telah terjadi penyebaran penyakit pneumonia misterius, pusat pengendalian dan penyebaran penyakit (CDC) Taiwan langsung memerintahkan adanya pemeriksaan untuk penumpang pesawat yang datang dari Wuhan.

Walaupun tidak memiliki hubungan yang baik dengan Beijing, Taiwan berhasil mendapatkan izin untuk mengirim tim ahli untuk memeriksa lapangan pada 12 Januari 2020.

"Mereka tidak mengizinkan kami untuk melihat apa yang mereka tidak ingin kita lihat, tapi para ahli tidak optimis ketika melihat situasi." Ujar perwakilan pemerintahan, Kolas Yotaka, kepada NBC News.

Sesudah tim tersebut kembali, Taiwan langsung mengarahkan rumah sakit untuk menguji dan melaporkan kasus yang terjadi. Hal ini membantu pemerintahan dalam mengidentifikasi siapa yang terinfeksi, mengikuti jejak mereka dan mengisolasi semua yang melakukan kontak, sehingga mencegah virus menyebar ke masyarakat.

Semua ini dilakukan sebelum Taiwan mengkonfirmasi terjadinya kasus Corona pada 21 Januari 2020.

Mempersiapkan Komando Pusat

Sama Pentingnya, CDC Taiwan mempersiapkan Komando Pusat pada tangal 20 Januari 2020 yang berhasil mengeluarkan tindakan pencegahan dengan cepat.

Jason Wang, professor pediatrik sekaligus analis kebijakan, mengatakan Taiwan sudah membuat dan mengimplementasikan daftar tindakan yang setidaknya berisi 124 tindakan selama lima minggu terakhir untuk melindungi kesehatan publik. "Kebijakan dan aksi yang ditempuh lebih dari sekedar pengaturan perbatasan karena mereka menyadari itu saja tidak cukup."

Dikepalai Menteri kesehatan Chen Shih-chung, komando pusat ini tidak hanya menginvestigasi kasus positif dan terduga Corona, tapi juga bekerjasama dengan pemerintahan local untuk menkoordinasi tindakan di dalam Taiwan, termasuk mengalokasikan dana, menggerakan personil, dan menganjurkan mengdisinfeksi sekolah.

Mengambil tindakan yang cepat dan tegas

Taiwan juga mengambil tindakan keras sejak dini. Pada 26 Januari 2020, lima hari setelah mengkonfirmasi pasien pertama virus Corona, Taiwan melarang kedatangan dari Wuhan, lebih awal jika dibandingkan dengan negara lain.

Tidak lama kemudian , mereka juga melarang kedatangan dari Tiongkok kecuali kota-kota tertentu, dan hanya warga negara Taiwan yang diperbolehkan masuk.

Menggunakan Teknologi untuk Mendeteksi dan Menyelidiki Kasus

Setelah mengamankan perbatasan, Taiwan menggunakan teknologi untuk melawan virus. Monitor suhu di bandara setelah terjadinya wabah SARS pada 2003 untuk mendeteksi orang-orang yang memiliki demam, salah satu gejala virus Corona.

Penumpang juga dapat memindai kode QR untuk melaporkan riwayat perjalanan dan gejala kesehatan secara online. Data-data ini kemudian diteruskan kepada CDC Taiwan.

Orang-orang yang datang dari daerah yang terinfeksi berat virus Corona, akan dikarantina selama 14 hari di rumah mereka sendiri walaupun tidak sakit. Lokasi mereka dilacak melalui ponsel yang membagikan lokasi mereka. Mereka yang melanggar akan dikenakan denda yang cukup besar.

Hal ini juga berlaku terhadap orang yang tidak melaporkan gejala mereka. Seorang pria terkena denda 10000 Dolar AS karena tidak melaporkan gejala setelah kembali dari Wuhan dan langsung mengunjungi klub dansa keesokan harinya.

Pihak berwenang juga sigap dalam menentukan siapa yang sudah melakukan kontak dengan yang terinfeksi, melakukan tes, dan menaruh mereka kedalam karantina rumah. “Mereka menemukan kasus baru dengan mengecek kembali orang-orang yang teruji negative.” Jelas Wang.

Memastikan Ketersediaan Barang

Untuk memastikan ketersediaan masker, pemerintah langsung melarang pabrik untuk mengekspor masker, mengatur distribusi, dan menetapkan harga sebesar 16 sen Dolar AS per masker.

Pemerintah juga langsung meningkatkan produksi dengan membuka garis produksi baru dan mempekerjakan tantara di pabrik-pabrik.

Masker-masker tersebut merupakan alat untuk melindungi kesehetan mereka yang berada di kota-kota Taiwan yang padat penduduk. Hal ini membuat mereka merasa aman dan tidak panik menghadapai situasi.

Mengedukasi Publik

Pemerintah juga menyuruh stasiun Televisi dan Radio untuk menyiarkan pesan layanan masyarakat yang mengajarkan bagaimana virus tersebar, pentingnya mencuci tangan, dan kapan seseorang harus menggunakan masker secara berkala.

“Kami pikir saat dengan informasi yang transparan dan masyarakat memiliki pengetahuan medis yang cukup, ketakutan mereka akan cukup berkurang.” Jelas Kolas seorang Jubir pemerintahan.

Masyarakat mengetahui bahwa kebanyakan pasien memiliki gejala ringan dan bahkan tidak memiliki gejala sama sekali, sehingga angka kematian mungkin lebih rendah daripada yang dilaporkan. Mereka juga menyadari bahwa riwayat perjalanan dan kontak mereka dengan pembawa virus lah yang meningkatkan tingkat risiko mereka terinfeksi,bukan ras atau kewarganegaraan mereka. Hal ini membantu menurunkan diskriminasi.

Buat Publik Terlibat

Tu Chen-yang, kepala sekolah, menjelaskan kerja sama antara publik, termasuk para murid, dengan tindakan yang diambil pemerintah sangat penting dalam pencegahan penyebaran virus Corona.

“Lebih dari 95% orangtua murid kami mengukur suhu anak mereka dan melaporkannya ke pihak sekolah sebelum mereka sampai ke sekolah.” Ujar Tu. “Terlepas dari tindakan pemerintah, masyarakat harus bertanggungjawab terhadap kesehatan mereka sendiri.”

Manager bank , Nature Lin, juga memiliki pandangan yang sama. Ia mengecek suhu para karyawannya saat mereka tiba dengan kamera pendeteksi suhu di lobinya. “Kami sudah mempersiapkan pembasmi kuman dan alat pengukur suhu selama liburan.” Jelasnya.

Kebanyakan kantor, sekolah, dan sasana olahraga masyarakat mengecek suhu pengunjung dan melarang orang demam untuk memasuki Gedung. Fedung apartement juga menyediakan hand sanitizer didalam dan diluar lift.

Belajar dari Pengalaman

Taiwan berhasil mengaplikasikan pelajaran yang mereka dapat setelah wabah SARS pada tahun 2003 yang mengakibatkan 73 korban jiwa dan merugikan ekonomi.

Kali ini, warga dan pemerintah Taiwan sudah siap, dan kesiapan itulah yang meningkatkan tingkat kepuasan terhadap Presiden Tsai Ing-wen.

Terakhir, Kolas mengatakan sistem asuransi kesehatan negaranya yang mencangkup 99% dari populasi, berperan sangat penting dalam memerangi penyebaran virus Corona.

“Asuransi kesehatan Taiwan membuat masyarakt tidak takut untuk pergi ke rumah sakit. Jika anda waswas apakah anda terjangkit virus Corona, anda tidak harus khawatir anda tidak mampu membayar tes rumah sakit.” Jelasnya.

Kolas mengatakan seseorang bisa mendapatkan tes gratis, dan jika anda harus diisolasi selama 14 hari, pihaknya akan menanggung makanan, tempat tinggal, dan biaya kesehatan. “ jadi tidak ada orang yang menghindari rumah sakit karena tidak mampu membayar.” (Muhammad Al-Iqbal)

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar