Sawah Sewaan, Asa Petani Bekasi di Tengah Pandemi

  Selasa, 30 Juni 2020   Firda Puri Agustine
Mika saat mencabut padi di area sawah Desa Srimahi, Tambun Utara, Kabupaten Bekasi. (ayobekasi.net/Firda Puri Agustine)

DESA SRIMAHI, AYOBEKASI.NET – Teriknya matahari di Desa Srimahi, Kecamatan Tambun Utara, Kabupaten Bekasi tak menyurutkan langkah Mika bergegas ke sawah. Di lahan seluas 300 meter inilah ia menggantungkan hidup.

“Saya sewa sawah-nya sama yang punya, empat blok ini kira-kira Rp 10 juta,” kata Mika saat ditemui Ayobekasi.net, Selasa (30/6/2020).

Informasi saja, letak lahan persawahan yang digarap Mika berada persis di samping pembangunan jalan tol Cibitung-Cilincing. Pemiliknya beragam latar belakang, ada perorangan, juga perusahaan. Khusus lahan yang disewa Mika adalah milik perusahaan makanan.

Bapak tiga anak itu tidak sendirian. Setidaknya ada sepuluh orang lain yang juga menyewa sawah untuk dijadikan sumber penghidupan. Maklum, lahan sawah ini memang terbilang luas, mencapai lebih dari dua hektare.

“Masing-masing istilahnya ada kavling-annya misal saya di sini, yang lain di sana,” ujarnya.

Untuk menanam padi, ia pun membayar jasa orang lain senilai Rp 1,2 juta dimana pada saat panen nanti, ia pun membagi hasilnya. Total keuntungan pun cukup lumayan, yakni bisa dua kali lipat dari modal.

AYO BACA : Cerita Pedagang Timun Suri Bekasi Bertahan di Masa Pandemi

“Kalau panen lancar dapatnya bisa Rp 20 jutaan bersih,” kata Mika.

Pekerjaan menggarap lahan orang lain sudah ia tekuni lebih dari 10 tahun. Bahkan, dari sinilah Mika mampu menafkahi keluarga hingga membeli sebidang tanah di wilayah lain di Kabupaten Bekasi. Pandemi Covid-19 pun diakuinya tak memberi dampak yang signifikan.

“Enggak ngaruh sih ya biasa aja (adanya Covid-19) karena orang masih butuh makan, butuh beras. Ya, seperti biasa aja saya nungguin panen,” ujarnya.

Sambil menunggu panen itu, Mika dan sang istri mengisi hari dengan berjualan makanan serta minuman ringan di dekat lokasi proyek jalan tol. Tak lupa ia juga memantau padi-padi di lahan sewa tersebut. Memberinya air dan jika ada yang layu, ia cabut satu per satu.

Namun, jauh di lubuk hati ada kekhawatiran yang Mika rasakan. Apalagi kalau bukan kemungkinan lahan tersebut ikut dibeli dan dibangun proyek infrastruktur.

“Iya soalnya banyak yang mau beli tanahnya cuma belum mau dijual sama yang punya. Makanya ini saya lagi nabung-nabung buat beli tanah lagi biar bisa nyawah sendiri,” kata dia.

Bagi pria 65 tahun ini, tanah adalah sumber kehidupan. Ia bisa digarap produktif, atau dijadikan investasi masa depan yang menjanjikan. Tak peduli apakah corona pergi atau bahkan bertahan. 

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar